Sayapku Tlah Patah

genggaman tanganmu 20130227-0810 (1)

Tahukah engkau momen apa yang sangat menggoreskan luka dalam perjalanan hidupku?
Adalah momen ketika aku kehilangan dirimu dengan sangat tiba-tiba.
Tahukah engkau momen apa yang begitu ingin kuhapus dalam ingatanku?
Adalah momen ketika engkau meninggalkanku tanpa sepatah kata pun.
Dan momen itu terus menari-nari dalam ingatanku tanpa mempedulikan aku yang begitu tersika.
Seolah diriku ini seorang yang mati rasa minus air mata.

Tahukah engkau hari itu kurasakan semua begitu indah?
Bahkan siang itu kecupanmu yang berulang-ulang di pagi hari masih menyisahkan hangat dikeningku
Tahukah engkau sebab itulah hariku saat itu terasa indah dan berbunga-bunga?
Bagaikan gadis muda yang sedang dimabuk cinta pertama

Siang itu pula seseorang memintaku segera datang ke tempatmu karena sesuatu telah terjadi padamu
Tahukah engkau kabar yang kudengar siang itu tidak bisa sepenuhnya masuk dalam nalarku?
Tahukah engkau bahwa aku sudah merasakan sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi disana?
Tahukah engkau bagaimana kutekan perasaanku ketika harus kupacu mobilku ke tempatmu?
Ingin rasanya aku segera terbang ketempatmu dan berada di sampingmu

Tahukah engkau bagaimana perasaanku saat melihatmu terbaring tak sadarkan diri di sana?
Sekuat tenaga aku mencoba untuk tidak merasakan apapun
Sekuat tenaga kubunuh semua rasa yang ada
Dan kuyakinkan diriku bahwa engkau akan sadar kembali dan kita akan segera pulang
Tapi engkau masih terbaring diam dan bisu

Tahukah engkau bagaimana perasaanku saat mereka menjelaskan keadaanmu?
Aku diam mematung menekan segala rasa
Masih kuberusaha membunuh segala rasa itu
Mereka bilang aku tegar menerima kenyataan
Padahal saat itu hatiku mulai terkoyak

Tahukah engkau apa yang kulakukan ketika kubersujud di mushollah dekat kamar tempatmu terbujur diam membisu?
Aku begitu congkak meminta Allah untuk memberimu kesembuhan
Aku begitu yakin engkau akan sembuh dan aku akan segera membawamu pulang

Tapi sampai larut malam pun engkau masih diam membisu
Perawat disana berusaha mengusirku dengan halus agar aku meninggalkanmu tapi aku bergeming
Perawat disana berbisik kepada perawat yang lain “sampai kapan?”
Tahukah engkau saat itu rasanya ingin sekali kutampar mulut perawat tak punya perasaan itu
Tak bolehkah aku berharap walau dimata mereka engkau tak lagi punya harap?

Tahukah engkau saat itu rasanya waktu berlalu begitu lambatnya?
Tahukah engkau saat itu detik demi detik begitu menyiksaku?
Ingin rasanya pagi segera tiba dan mengakhiri semua mimpi buruk itu
Dalam diam kita akhirnya kusadari salahku
Tidak seharusnya aku congkak meminta kesembuhanmu seolah aku tahu apa yang terbaik untukmu
Seharusnya aku meminta apa yang terbaik untukmu walau itu akan sangat menyakitkan untukku

Saat malam beranjak menjemput dini hari…
Dengan terbata-bata kubaca surat Al Fajr di dekat telingamu
Surat yang sedari tadi tak ingin kuperdengarkan kepadamu
Tak bisa kutahan lagi air mataku ketika hampir sampai dibagian akhir surat itu
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-NYA. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKU. Masuklah ke dalam surgaKU”
Kubisikkan ayat-ayat itu berulangkali di dekat telingamu sambil kugenggam jemarimu

Tahukah engkau bagaimana rasanya saat kubaca ayat-ayat itu berulang-ulang?
Rasanya seperti menyerahkanmu kepada malaikat maut
Dan kita pun menangis bersama-sama
Kuhapus air mata yang menggenang di matamu yang terpejam
Lalu kubisikkan ditelingamu bahwa aku merelakanmu pergi
Kuhapus lagi air mata yang menggenang lagi di matamu yang terpejam
Setelah itu tak ada lagi air mata di sana
Wajahmu begitu tenang seolah engkau sudah sangat siap menghadap Sang Khalik

Waktu berlalu dan semua masih sama seperti saat engkau memasuki kamar itu
Tahukah engkau begitu banyak yang datang untuk mendoakanmu?
Jelang malam itu, ketika anak-anak akhirnya berkumpul mengelilingimu…
Engkau akhirnya meninggalkan kami untuk selama-lamanya

Sayapku tlah patah !
Allah…Allah…Allah…Allah…Allah hanya itu yang mampu kubisikkan agar aku tetap kuat berdiri diatas kakiku yang mulai goyah
Allah…Allah…Allah…Allah…Allah hanya itu yang mampu kuucapkan agar aku tetap kuat menahan tubuhku yang mulai limbung seolah hendak terbang bersamamu

Tahukah engkau bahwa hari-hariku tanpamu adalah air mata
Bahkan air mata itu bisa merebak tiba-tiba tanpa permisi
Tahukah engkau bahwa hari-hariku tanpamu adalah duka
Bahkan duka itu masih sangat terasa diatara canda dan tawaku

Sayapku tlah patah !
Biarkan saja aku menangis, entah sampai kapan
Tangisan itu bukan berarti aku putus asa
Biarkan saja aku berduka, entah sampai kapan
Kedukaan itu bukan berarti aku kalah

Sayapku tlah patah !
Tapi hanya sayapku saja yang patah
Engkau akan lihat aku masih sanggup berdiri tegar
Bahkan engkau akan lihat aku masih sanggup terbang dengan sayapku yang patah
Membawa anak-anak kita menggapai impian yang pernah kita lukis diatas awan
InsyaAllah….

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-NYA. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKU. Masuklah ke dalam surgaKU”

Selamat Ulang Tahun Belahan Jiwaku….seharusnya ini ulang tahunmu yang ke 44 tahun..

Dian Widyaningtyas
Tender Loving Care
Late night, July 27th, 2013

4 thoughts on “Sayapku Tlah Patah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s