Tantrum Aisyah

Aisyah adalah anakku yang nomor tiga. Aku memberinya nama Aisyah dengan harapan dia secerdas dan selincah Bunda Aisyah istri Nabi Muhammad SAW. Tahun ini umurnya akan genap delapan tahun. Dibandingkan saudara-saudaranya, Aisyah memang lain. Dia lebih ekspresif. Dia yang selalu memberiku surat-surat pendek bertuliskan “I love you, Mom”, “Mama cantik deh”, “Aku sayang Mama” dan sebagainya yang biasanya dia selipkan diantara meja rias yang berada di kamarku. Atau surat pendek yang berisi “pengakuan dosa” maupun komplain yang bertuliskan “Mama tadi HP mama yang dibawa Kakak Ais ke sekolah dirampas ustadzah”, “Kakak Ais benci Mama”, “Mama nanti malam temani Kakak Ais tidur ya” dan sebagainya yang biasanya dia serahkan ke aku langsung untuk memastikan aku membacanya. Ah…surat-suratnya mampu membuat rasa penatku sepulang kerja tiba-tiba menguap entah kemana, apapun isi suratnya. Aku suka pembawaannya yang ekspresif itu.

Continue reading

Advertisements

Vacuum

Menurut Mbah Google kata vacuum yang merujuk kepada kata benda (noun) bisa diterjemahkan sebagai kekosongan atau kehampaan. Begitulah yang aku alami selama lebih dari sebulan sejak tulisan terakhirku yang berjudul Sepatuku Melayang yang kuposting pada tanggal 18 Maret 2014. Kosong dari kegiatan menulis dan hampa ide. Sebenarnya kalau dibilang hampa ide sih kurang tepat. Karena kenyataannya banyak ide berloncatan di kepala menunggu untuk dituangkan ke dalam rangkaian kata maupun kalimat. Lantas kemana ide-ide itu? Melayang !

Continue reading

Sepatuku Melayang

Jadi begini ceritanya…
Kamis minggu kemarin sepulang dari acara Ngisi Bareng SPT Tahunan di sebuah universitas swasta di daerah Menanggal, hujan begitu derasnya. Dan motorku parkirnya agak jauh dari gedung. So…kloncom juga akhirnya. You know kloncom? Kloncom tuh basah kuyup. Sepatuku juga basah. Tapi gakpapa deh, yang penting khan bisa pulang lebih cepat karena dapat surat tugas. Keesokan harinya sepatu masih basah, so aku pakai sepatu cinderella yang biasanya kusimpan di dalam mobil. Memang di dalam mobilku ada beberapa pasang sepatu dan sandal. Ada dua pasang sepatu kets, sepasang flat shoes, dan dua jenis sandal bertali minimalis. Maklum, aku lebih nyaman kemana-mana pake sandal jepit. Jadi sepatu dan sandal di mobil itu buat jaga-jaga kalau aku harus ke suatu tempat yang tidak sepantasnya aku pakai sandal jepit. Kalau ke kantor sih biasanya aku pakai loafer shoes. Tahu nggak kenapa aku sebut flat shoesku sepatu cinderella? Because I bought one size below the size that fits on me. Jadi tuh sepatu imut banget di kakiku, sampe sakit dipakainya. Makanya jarang-jarang kupakai.

Continue reading

Sorry Seems To Be The Hardest Word

 
What I got to do to make you love me?
What I got to do to make you care?
What do I do when lightning strikes me?
And I wake to find that you’re not there?

What I got to do to make you want me?
What I got to do to be heard?
What do I say when it’s all over?
Sorry seems to be the hardest word.

It’s sad, so sad
It’s a sad, sad situation.
And it’s getting more and more absurd.
It’s sad, so sad
Why can’t we talk it over?
Oh it seems to me
That sorry seems to be the hardest word.

What do I do to make you want me?
What I got to do to be heard?
What do I say when it’s all over?
Sorry seems to be the hardest word.

It’s sad, so sad
It’s a sad, sad situation.
And it’s getting more and more absurd.
It’s sad, so sad
Why can’t we talk it over?
Oh it seems to me
That sorry seems to be the hardest word.

Yeh…Sorry

What I got to do to make you love me?
What I got to do to be heard?
What do I do when lightning strikes me?
What have I got to do?
What have I got to do?
When sorry seems to be the hardest word.

***

tyastlc 

Unforgotten Night as you wake me up and say goodbye….. March 9th, 2014

What do I do when lightning strikes me?

And I wake to find that you’re not there?

And why can’t we talk it over?

#TTR

 

Khadimat

Dulu di rumah mbahku ada seorang wanita paro baya dengan dua anaknya, yang sulung perempuan dan yang bungsu lelaki. Aku masih ingat betul nama-nama mereka, tapi tak usahlah kusebut di sini. Bahkan aku masih ingat betul beberapa momen kebersamaan kami. Waktu itu ayah ibu masih tinggal serumah sama mbah, begitu juga dengan wanita dan anak-anaknya itu. Mereka tinggal di bagian belakang rumah mbah yang memang sangat besar. Aku tidak pernah melihat suami wanita itu. Mungkin dia single parent seperti diriku saat ini. Mbah menyebut dia sebagai batur. Waktu itu aku belum paham arti batur, tapi kalau dilihat dari arti kata “dibaturi” yang berarti ditemani, aku menyimpulkan bahwa mereka adalah teman. Teman untuk mbah putri ketika beraktifitas di dapur. Teman mbah putri untuk ngobrol-ngobrol ketika rumah sebesar itu sepi karena ditinggal mbah kakung kerja dan anak-anaknya sekolah. Sedangkan anak-anak wanita itu menjadi teman bermain om-om dan tante-tanteku. Aku tidak ingat waktu itu apakah mereka sekolah atau tidak. Ketika aku mulai bisa jalan, anak-anak wanita itu bertugas untuk momong aku. Walau mbah putri dan ibuku tidak bekerja, tapi mbah kakung selalu menyediakan batur untuk keluarganya. Di kemudian hari ketika mbah sudah bisa merelakan ayah dan keluarga kecilnya ngontrak rumah sendiri pun, ayah selalu menyediakan batur untuk ibu walo ibuku tidak bekerja dan sangat banyak waktu untuk mengurusi rumah dan anaknya. Mungkin karena kultur di keluarga ayahku seperti itu.

Continue reading

Duhai

Taken from Bing

Taken from Bing

Duhai jiwa yang tenang
Dimanakah akan kutemukan dirimu?
Apakah diantara semilir angin yang meningkahi senyapnya malam?
Ataukah diantara redupnya sinar rembulan yang membuai pucuk-pucuk dedaunan?
Entahlah…

***

 

Dian Widyaningtyas
Tender, love, and care
Di ujung malam yg sunyi, sepi dan sendiri.
Januari 8th, 2013

Posted from WordPress for BlackBerry.

BBM Channel for Your Marketing Tool

Sejatinya sudah beberapa ulasan tentang gadget yang saya tulis tetapi selalu saja urung diupload ke blog karena kurang percaya diri. Akhirnya malam ini Ratu Gadget (julukan yang diberikan teman-teman kepada saya) memberanikan diri untuk mengupload sebuah tulisan yang temanya sangat berbeda dari biasanya, yaitu seputar memaksimalkan fungsi gadget. Tentu saja dengan gaya penulisan yang juga berbeda dari biasanya. Biasanya saya selalu membahasakan diri dengan sebutan “aku” disetiap tulisan, tapi untuk Kategori Gadget Freaks sepertinya sebutan “saya” lebih enak dilafalkan.

Continue reading

A Simple Live Music Show

live music

Lir ilir..lir ilir

tanduri wes sumilir

tak ijo royo-royo tak senggu temanten anyar…

Continue reading

Blass, Pak !!

Smada Jombang

Usianya sekitar 50-an, badannya tambun, dan selalu memakai baju safari. Dengan menenteng tas kerja dia berjalan ke kelasku. Kemudian dia duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya. Letaknya kebetulan berhadapan dengan meja kursiku. Ya..aku selalu memilih duduk di deretan depan karena malas memakai kacamata minusku. Dia adalah salah satu guru agama di kelasku. Aku tidak tahu kenapa sekolah memberi kami dua guru untuk satu bidang studi. Kebetulan dua orang ini dari “aliran” yang berbeda. Yang satu Nahdliyin, dan satunya lagi Muhammadiyah. Orangnya lucu. Sesekali dia menyentil Nadliyin, padahal di kelasku ada beberapa teman yang mondok di pesantren Nadliyin. Misalnya dia menyentil masalah kendurian memperingati sekian hari orang yang meninggal dan sebagainya yang disampaikannya secara santai dan sedikit jenaka.

Sejurus kemudian, dia membetulkan letak kacamatanya. Lalu dia keluarkan sebuah buku tipis yang sudah kumal dari saku bajunya. Tampaknya buku itu dilipat jadi dua agar bisa masuk dalam saku baju. Satu persatu dia panggil nama kami. Ini adalah kegiatan rutin yang dia lakukan sebelum mulai masuk ke materi. Dia mengabsen berapa rekaat tahajud dan witir yang sudah kami lakukan semalam. Ini bisa menjadi nilai tambah buat kami. Awalnya aku semangat sekali sholat tahajud dan witir kalau besoknya ada pelajaran agama dan jadwalnya dia yang mengajar. Tapi malam sebelumnya aku jadi sulit meluruskan niat, apakah sholatku karena dia atau lillahi ta’ala. Jadi kuputuskan untuk tidak sholat tahajud dan witir. Bagi kami yang perempuan, jika tidak melakukan sholat tahajud dan witir ada dua kemungkinan; yaitu berhalangan atau malas.

Akhirnya tiba giliranku dipanggil. Menjawab sedang halangan jelas nggak mungkin karena memang aku tidak sedang berhalangan. Itu kan bohong namanya. Akhirnya aku ikuti kebisaan teman-teman jika lagi bolong nggak sholat tahajud dan witir.

“Blass, Pak!!” Jawabku lantang.

“Yo ngunu..enek peningkatan. Sakiki wes iso sewelas rokaat” katanya sambil menulis sesuatu di buku catatannya.

Gubrakssss….!!! Kami biasanya hanya cekikikan saja. Sak karep, Pak. Pokoke aku ora mbujuk loh yaaaa….

Padahal dia sedang membiasakan kami untuk sholat tahajud dan witir dengan rutin. Satu malam yang dia absen itu hanyalah sebuah pancingan saja untuk membiasakan kami sholat tahajud dan witir di malam-malam lainnya. Dan jujur saja karena perintah dia lah aku jadi “terpaksa” sholat tahajud dan witir. Itu adalah tahajud dan witirku yang pertama. Sebuah keterpaksaan yang akhirnya aku syukuri karena lama-lama aku menemukan ketenangan di dalamnya. Memang begitu adanya, bahwa terkadang kebiasaan baik itu perlu dipaksakan.

Tahajud yuk…!!

***

Dian Widyaningtyas

Tender, love, and care

Lonely night……..Early Monday, December 30

Sulung Ingin I’tikaf

i'ktikaf

“Mama, Malam ini Kakak ingin i’tikaf di masjid” katamu begitu sampai di rumah seusai sholat Isya. Sesaat, Mama yang belum bisa sepenuhnya menangkap maksudmu hanya bisa memandangi wajah tampanmu dan mencoba mencari jawabnya di sana.

“I’tikaf? Malam ini? Ada apa di masjid? Ngapain saja di sana nanti?” Pertanyaan beruntun Mama tampaknya membuatmu kurang suka. Maafkan Mama, Sayang. Mendengar istilah i’tikaf, pikiran Mama langsung teringat dengan bulan Ramadhan sedangkan saat ini bukan bulan Ramadhan, lantas kenapa ada i’tikaf? Hihihihi kuper banget ya Mama…

“Di Masjid sedang ada JT, Ma. Tadi siang datangnya. Kakak pengen i’tikaf sama mereka” Jawabmu yang akhirnya membuat Mama mahfum.

Ya…Mama perhatikan setiap kali mereka mendatangi masjid komplek perumahan kita, kau begitu antusias untuk berada diantara mereka. Ini terjadi sejak Abahmu tidak lagi membersamai kita. Mama tahu, rasa kangen kepada Abahlah yang membuatmu ingin berada diantara mereka karena Abah dulu juga pernah aktif di organisasi tersebut. Mungkin berada di dekat mereka membuatmu merasa dekat dengan Abahmu. Mama masih ingat ketika pertama kali kau berinteraksi dengan mereka, kau lalu mencari-cari jubah dan sorban Abah yang Mama simpan. Kau mencoba memakai sorban itu. Ah….Tak sanggup Mama melihatnya waktu itu, entah kenapa. Rasanya kau terpaksa menjadi dewasa sejak Abah nggak ada.

“Mama antar ke masjid yuk. Mama ingin nitipin Kakak ke ketua rombongannya” Melihat matamu yang berbinar-binar setiap kali menceritakan kedatangan mereka ke masjid komplek perumahan kita membuat Mama tidak kuasa menolak permintaanmu. Mukamu yang tadi murung tiba-tiba cerah kembali.

Sesampainya di masid ternyata sudah menunggu beberapa temanmu disana. Teman-teman yang sering kau jemput satu persatu agar mereka mau sholat jamaah di masjid. Rupanya kau berhasil pula mengajak mereka untuk i’tikaf malam ini. Mama bangga kepadamu, Sayang. Kerena kau mengajak teman-temanmu berbuat kebaikan, walau kadang pikiranmu tidak sejalan dengan pikiran Mama. Kadang Mama berpikir “ngapain sih sholat di masjid pake dijemput segala? repot amat”. Mama harusnya bersyukur punya anak seperti kamu, yang ingin berbuat baik tanpa menimbang untung rugi, repot nggak repot dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Mama bangga padamu, Sayang. Sungguh…

Akhirnya Mama harus merelakan kau i’tikaf di masjid malam ini. Mungkin Mama akan merelakan kau lebih banyak bersama mereka jika itu yang kau inginkan, agar terbentuk karakter positif pada dirimu, seperti halnya Abahmu dulu. Lebih dari itu, tak sanggup Mama melihat kerinduanmu kepada Abah. Tahukah kau, Sayang…kerinduanmu itu mengoyak perasaan Mama karena Mama tak pernah sanggup mengobatinya. Apapun yang Mama lakukan, tak akan pernah bisa menggantikan sosok Abah dalam hidupmu. Merelakanmu “menapak tilas” sebagian masa lalu Abahmu agar kau merasa dekat dengannya, itulah yang bisa Mama berikan untuk mengobati kerinduanmu itu.

***

Dian Widyaningtyas

Tender, love, and Care

Awal tanggal 28 Desember 2013, diantara buliran bening yang tak sanggup kutahan…

Foto diambil dari sini