Sulung Ingin I’tikaf

i'ktikaf

“Mama, Malam ini Kakak ingin i’tikaf di masjid” katamu begitu sampai di rumah seusai sholat Isya. Sesaat, Mama yang belum bisa sepenuhnya menangkap maksudmu hanya bisa memandangi wajah tampanmu dan mencoba mencari jawabnya di sana.

“I’tikaf? Malam ini? Ada apa di masjid? Ngapain saja di sana nanti?” Pertanyaan beruntun Mama tampaknya membuatmu kurang suka. Maafkan Mama, Sayang. Mendengar istilah i’tikaf, pikiran Mama langsung teringat dengan bulan Ramadhan sedangkan saat ini bukan bulan Ramadhan, lantas kenapa ada i’tikaf? Hihihihi kuper banget ya Mama…

“Di Masjid sedang ada JT, Ma. Tadi siang datangnya. Kakak pengen i’tikaf sama mereka” Jawabmu yang akhirnya membuat Mama mahfum.

Ya…Mama perhatikan setiap kali mereka mendatangi masjid komplek perumahan kita, kau begitu antusias untuk berada diantara mereka. Ini terjadi sejak Abahmu tidak lagi membersamai kita. Mama tahu, rasa kangen kepada Abahlah yang membuatmu ingin berada diantara mereka karena Abah dulu juga pernah aktif di organisasi tersebut. Mungkin berada di dekat mereka membuatmu merasa dekat dengan Abahmu. Mama masih ingat ketika pertama kali kau berinteraksi dengan mereka, kau lalu mencari-cari jubah dan sorban Abah yang Mama simpan. Kau mencoba memakai sorban itu. Ah….Tak sanggup Mama melihatnya waktu itu, entah kenapa. Rasanya kau terpaksa menjadi dewasa sejak Abah nggak ada.

“Mama antar ke masjid yuk. Mama ingin nitipin Kakak ke ketua rombongannya” Melihat matamu yang berbinar-binar setiap kali menceritakan kedatangan mereka ke masjid komplek perumahan kita membuat Mama tidak kuasa menolak permintaanmu. Mukamu yang tadi murung tiba-tiba cerah kembali.

Sesampainya di masid ternyata sudah menunggu beberapa temanmu disana. Teman-teman yang sering kau jemput satu persatu agar mereka mau sholat jamaah di masjid. Rupanya kau berhasil pula mengajak mereka untuk i’tikaf malam ini. Mama bangga kepadamu, Sayang. Kerena kau mengajak teman-temanmu berbuat kebaikan, walau kadang pikiranmu tidak sejalan dengan pikiran Mama. Kadang Mama berpikir “ngapain sih sholat di masjid pake dijemput segala? repot amat”. Mama harusnya bersyukur punya anak seperti kamu, yang ingin berbuat baik tanpa menimbang untung rugi, repot nggak repot dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Mama bangga padamu, Sayang. Sungguh…

Akhirnya Mama harus merelakan kau i’tikaf di masjid malam ini. Mungkin Mama akan merelakan kau lebih banyak bersama mereka jika itu yang kau inginkan, agar terbentuk karakter positif pada dirimu, seperti halnya Abahmu dulu. Lebih dari itu, tak sanggup Mama melihat kerinduanmu kepada Abah. Tahukah kau, Sayang…kerinduanmu itu mengoyak perasaan Mama karena Mama tak pernah sanggup mengobatinya. Apapun yang Mama lakukan, tak akan pernah bisa menggantikan sosok Abah dalam hidupmu. Merelakanmu “menapak tilas” sebagian masa lalu Abahmu agar kau merasa dekat dengannya, itulah yang bisa Mama berikan untuk mengobati kerinduanmu itu.

***

Dian Widyaningtyas

Tender, love, and Care

Awal tanggal 28 Desember 2013, diantara buliran bening yang tak sanggup kutahan…

Foto diambil dari sini

Deja vu

Dejavu

Masih sesakit dulu

Ketika peristiwa itu telak menamparku

Masih seperih dulu

Ketika kenyataan itu mengiris perasaanku

Kehilanganmu…..hal terkelam dalam perjalanan hidupku

3 Nopember 2013, di tepi malam yang sepi

***

Aku baru saja menutup diaryku ketika ada notifikasi BBM masuk.  Aku sudah bisa menebak siapa pengirimnya. Hanya dia yang tahu kebiasaanku yang masih terjaga jelang dini hari begini. Aku masih enggan beranjak dari kursiku untuk mengambil  blackberry berwarna putih yang tergeletak di samping bantalku. Aku malah mengambil kembali diary berwarna ungu muda yang tadi sudah kumasukkan dalam laci mejaku. Membukanya secara acak dan membaca lembar demi lembar tulisanku yang tertoreh di sana. Kembali kudengar notifikasi masuk, kali ini lebih keras disertai getaran yang tak kalah kerasnya sebanyak dua kali. Hm….rupanya dia tidak sabar menanti jawabanku sehingga merasa perlu memencet menu “ping” untuk menyita perhatianku. Aku beranjak dari kursiku, mengambil bantal di atas ranjang dan memindahkannya diatas pangkuanku sambil beringsut duduk bersandar pada headboard.

“Belum tidur kan, Raisa?”

PING !!!

“Hai…” Aku masih enggan menjawabnya lebih dari tiga huruf itu

“Ngapain aja sih, lama banget jawabnya?”

“Bernapas” Jawabku pendek

“Oh kirain pingsan”

“Pingsan juga bernapas lah. Kalau dah mati, nah itu baru nggak bernapas lagi” Keenggananku mulai hilang.

“Belum ngantuk, Raisa?”

“Belum”

“Kok belum sih? Ngantuk dong…”

“Lha memangnya kenapa kalau aku dah ngantuk?” Tanyaku bingung.

“Agar aku tidak perlu menemanimu begadang dan bisa tidur nyenyak”

“Yeee..kalau mau tidur ya tidur aja, Mas. Jangan pedulikan aku” protesku kepadanya.

“Bagaimana bisa, aku tidak peduli padamu, Raisa?”

“Qiqiqiqiqi….” Kurasa itu adalah jawaban ternetral yang bisa kuberikan kepadanya.

Ah….Isyarat itu sudah beberapa kali kutangkap tiap kami ngobrol baik lewat chat maupun telepon. Tapi entahlah, aku masih enggan untuk menanggapinya.

PING !!!

Aku tersadar dari lamunanku.

“Ya…” Jawabku.

“Kok diam sih?”

Aku hanya menjawabnya dengan  ikon tersenyum, sebuah jawaban netral yang lain ketika aku bingung mau menjawab apa.

“Aku inigin ke tempatmu, Raisa”

“Kapan?”

“Malam ini”

“Ah yang boneng” Jawabku sekenanya. Tentu dia nggak serius. Setidaknya dia harus menempuh perjalanan satu setengah jam untuk bisa sampai ke tempatku. Dan ini sudah sangat larut malam, ho..ho..ho..tentu tidak mungkin.

“Serius…”

“Mau ngapain sih?” Aku baru ingat kalau aku sedang berhadapan dengan lelaki nekat.

“Aku akan mencuri hatimu karena kau tidak pernah mau memberikannya padaku”

“Aku tahu kau sayang padaku, Raisa” Lanjutnya.

Sebenarnya aku menyukai perhatiannya. Tapi apa yang bisa kuberikan padanya selain hati yang sudah terkoyak. Sejurus kemudian dia menelponku.

“Aku segera kesana”

“Gila kau ya !!” Aku bingung dibuatnya.

“Jika aku sampai ke tempatmu, itu artinya kau harus memberikan hatimu padaku”

Aku masih akan menjawabnya ketika dia menutup telepon dengan tiba-tiba. Kata-kataku menggantung di ujung lidah dan urung terucap.

“Hati-hati di jalan ya” Aku seakan-akan merestui kenekatannya. Beberapa detik kemudian BBM itu terkirim dan terbaca tapi tak dia jawab. Mungkin dia sudah memacu mobilnya sehingga tidak bisa menjawabnya.

Sekian puluh menit berlalu, aku masih termangu dengan posisi yang sama. Iseng aku baca kembali BBM kami barusan. Sebenarnya aku tidak membacanya, aku hanya menggulir kursornya ke atas dan ke bawah. Satu jam berlalu. Hatiku makin tak menentu, entah kenapa. Aku belum siap memberikan hatiku padanya. Tiba-tiba saja kepingan-kepingan perhatiannya berkelebat dalam ingatanku. Membentuk sebuah kolase indah yang menggetarkan hatiku. Tak terasa dua jam sudah berlalu dan dia belum datang juga. Ada perasaan lega. Aku tersenyum sendiri merasa dikerjai olehnya. Rasanya aku ingin tidur nyenyak memeluk mimpiku yang hampir pudar disapu pagi.

***

Aku hendak membuka diaryku dan menuliskan keisengan yang kualami dini hari tadi ketika ada sebuah telepon masuk. Di layar handphoneku terpampang nama salah satu sahabat Mas Adrian.

“Raisa, dini hari tadi Adrian mengalami kecelakaan dan nyawanya tak tertolong” Katanya dengan suara yang bergetar

Aku tak sanggup berkata-kata. Seolah ada yang tercerabut dari hatiku. Sakit sekali rasanya.

 

Kepergianmu bagaikan sebuah deja vu…

4 Nopember 2013, di pagi yang terkoyak…lagi

 

Bulir-bulir air mata membasahi lembaran diaryku tanpa bisa kubendung lagi.

***

 

Dian Widyaningtyas

Tender, Love, and Care

November 5th, 2013. Playing with fiction in the still of the dawn.

Silhouette

burung silhuete

Ratusan kata berloncatan kesana kemari dan berserakan di dalam pikiranku

Tanpa sanggup kurangkai menjadi sesuatu yang bermakna

Agar bisa kugambarkan rasaku kepadamu

Atau sekedar kubisikkan rintih hati

Yang lelah mengembara tak tahu arah

Antara mencari sosokmu yang senyata silhouette

Atau melupakanmu sampai ke alam bawah sadarku

Tahukah dirimu aku merindui semua tentangmu?

Tahukah dirimu berapa kali aku berusaha lari darimu?

Tapi sosokmu yang senyata silhouette itu terus mengejarku

Bahkan dia masih memburuku hingga ke alam bawah sadarku

Ketika aku berusaha memeluk mimpiku yang hampir pudar disapu pagi

Lalu dimanakah dirimu yang selalu menghiasi ceritaku?

 

 

Dian Widyaningtyas

Lost in your heart

Sunday, Early November 3th, 2013 

Masih Tentang Dirimu

cry

Malam ini senandung rindumu menjajah pikiranku

Selalu ada getir tiap mendengarnya

Kau tau itu

Leleh air mata tak ingin kususut

Biarlah!

 

Sejuta rasa merangsek dalam dada

Berontak

Mengaduk-aduk

Berloncatan kesana kemari

Hendak lari

Diam! kataku

Lalu dia terdiam

Pilu

 

Buang saja kenapamu

Biarkan aku puas menangis

Ada wajahmu ditiap linangannya

Ada senyummu ditiap tetesannya

Masihkah berarti bagimu?

 

 

Dian Widyaningtyas

Tender Loving Care

From sleepless night ’till touch the dawn, October 3th, 2013

Picture from this site

 

Sudut yang Terabaikan

Hari Jumat sepulang dari kantor seperti biasa aku langsung menuju ke kamarku. Menghadap meja kecil bercermin sambil melepas satu persatu peniti-peniti mungil yang sedari pagi menancap di jilbab coklat tuaku. Beberapa detik berlalu baru kusadari ada yang lain di meja riasku. Sepertinya ada yang menjelajahi meja riasku saat aku tidak berada di rumah. Susunan benda-benda diatasnya sedikit berubah. Dan…hei…kemana larinya debu tebal yang biasanya setia menyelimuti meja bercermin itu? Lalu kubuka lemari kecil yang nempel disampingnya. Sama ! Ada yg pernah menyentuhnya dan menyapu bersih debu tebal di dalamnya. Aku baru ingat…itu pasti kerjaan si mbak yang baru beberapa hari lalu bekerja di rumahku. Aku memang tidak melarangnya masuk ke kamar pribadiku.

Sejak kepergian belahan jiwa, aku memang enggan sekali menyentuh benda-benda yang berada di atas meja riasku. Aku hanya memanfaatkan cerminnya untuk memastikan jilbab yang kupasang sudah rapi menutup kepala dan dada. Aku tidak peduli saat debu mulai menyelimuti meja kecil dan benda-benda di atasnya. Pun aku tidak peduli ketika kian hari cerminnya kian buram tertutup debu. Aku tidak punya keinginan sedikitpun untuk mengusir debu nakal itu. Sungguh aku tidak peduli. Padahal dulu saat belahan jiwa masih ada, aku paling senang duduk berlama-lama di depannya sambil oles ini itu ke seluruh permukaan kulitku. Demi belahan jiwa tercinta. Dan belahan jiwa sangat senang dengan rutinitasku tersebut.

Meja Rias

Akhirnya sekalian saja aku rapikan meja rias itu sesuai keinginanku. Setelah semuanya rapi jali, aku tertegun dan termangu melihat penampilan meja riasku yang telah sekian bulan terabaikan tak kusentuh sama sekali, kini kembali seperti saat belahan jiwa masih ada. Jadi kangen banget dengan kehadirannya. Kusemprot sedikit parfum amber elixir kesukaan belahan jiwa ke pergelangan tanganku. Kuoles tipis-tipis body butter ke tanganku. Memulas tipis lipstick coklat kemerahan pada bibirku. Memberi sedikit rona peach pada tulang pipiku. Lalu demi apa coba? Entahlah….. aku hanya ingin merasakan belahan jiwa ada di sini bersamaku, seperti dulu, sambil memandangku lekat-lekat seolah ingin mengingat setiap detil wajahku. Aku ingin merasakannya lagi walau hanya beberapa detik sebelum aku menyadari bahwa semua itu adalah semu.

***

Dian Widyaningtyas

Tender, Love, and Care

Di ujung rindu yang tak pernah terobati…

Mengetuk pintu malam, September 28th, 2013

Mencarimu

stock-photo-moon-and-stars-outside-old-window-1526748

Mencarimu diantara sepinya malam yang merambati jendela kamarku yang tiada henti bernyanyi lirih

Nyanyiannya pilu menelusup ke dalam dinding-dinding hatiku

Merangsek ke dalam bilik-biliknya

Acuhkan diriku yang hanya bisa menunggu

Tak kutemukan jawabnya di sana

Bahkan jendela itu hanya menggeleng perlahan

Sudahlah !

Tak ingin kubertanya lagi padanya

 

Mencarimu diantara gelap malam yang coba dirayu rembulan kesepian dengan sinarnya yang lembut yang dia pinjam dari kekasihnya yang lebih dulu pulang ke peraduan

Mereka terlalu sibuk bercumbu

Saling peluk dan berpagut mesra

Acuhkan diriku yang hanya bisa termangu

Tak kutemukan jawabnya di sana

Bahkan rembulan itu tidak melihatku sama sekali

Sudahlah !

Tak ingin kubertanya lagi padanya

 

Mencarimu diantara angin malam yang meninabobokkan dedaunan yang sedari siang tadi bermain-main dengan matahari

Masih saja dedaunan itu enggan terlelap

Mereka  ingin terus menari

Meliuk-liuk binal diterpa cahaya gemintang centil di langit temaram

Acuhkan diriku yang hanya bisa terguguh

Tak kutemukan jawabnya di sana

Bahkan dedaunan itu sesekali mengejekku dengan berdesah manja pada angin malam

Sudahlah !

Tak ingin kubertanya lagi padanya

 

Dan aku masih mencarimu

Entah kemana lagi

Mungkin dalam relung hatiku

Yang banyak menyimpan senyummu

Juga candamu

Entahlah……..

 

 

Dian Widyaningtyas

Tender, Love, and Care

Mencarimu hingga terdampar di awal hari, September 23th, 2013

Yang Tak Pernah Pudar

bangku putih

http://dailypost.wordpress.com/2013/09/16/writing-challenge-dialogue/

“Apakah kau benar-benar akan pergi?” Pertanyaan yang sama yang kau lontarkan entah yang keberapa kalinya.
“Alex…” Aku menghela nafas menahan kejengkelanku “Tentu saja aku akan pergi. Sudah sejak lama aku menantikan kesempatan ini”

Senja di taman yang tiba-tiba sepi oleh kebisuanmu. Sedangkan hatiku bergemuruh karena sikapmu itu. Bangku putih di pojok taman menjadi saksi bisu pergolakan hati kita. Warna warni bunga di sana terlihat pucat di mataku. Bahkan kecipak suara air mancur di tengah taman menjadi sangat berisik di telingaku. Sikapmu sangat menyiksaku.

“Ini tidak akan lama, Alex” aku ragu dengan ucapanku sendiri “Aku akan menyelesaikan studiku dalam tiga tahun” aku mencoba meyakinkanmu……dan diriku.

Bayangan lima tahun silam itu berkelebat  dalam benakku. Silih berganti menampar dan mencabik-cabik keangkuhanku. Ditahun ketiga kukatakan padamu bahwa aku akan menambah studiku selama dua tahun lagi untuk memperdalamnya. Seraut wajah kecewamu masih segar dalam ingatanku. Seperti biasa kau hanya diam. Beberapa minggu kemudian aku menerima teleponmu yang mengatakan kau ingin mengakhiri semuanya. Waktu itu aku tidak berusaha mencegahmu. Aku bahkan merasa terbebas dari suatu beban, entah apa. Hari-hari berikutnya aku semakin sibuk mengejar ambisiku.

Menjelang tahun kelima, satu persatu ambisiku mulai berada dalam genggaman. Tapi aku tak pernah merasa puas dengan semua itu. Selalu saja aku merasa ada yang kurang. Cukup lama aku mencari jawaban apa yang kurang dalam hidupku. Ya…ternyata kau, Alex! Ternyata hidupku tak lengkap tanpamu. Kau tahu, Alex….andai saja aku boleh memiliki satu permintaan, ingin rasanya aku kembali ke masa lima tahun silam. Ingin kuperbaiki semua kesalahanku. Aku ingin tetap bersamamu. Tapi penyesalan selalu saja datangnya terlambat.

Di taman yang sama, masih sesenja lima tahun silam. Warna warni bunga masih terlihat sepucat dulu dimataku. Bahkan kecipak suara air mancur di tengah taman masih terdengar seberisik dulu di telingaku. Aku duduk di bangku putih yang mulai memudar dilumat sang waktu. Tapi entah mengapa ingatan akan dirimu tak pernah pudar dalam benakku.

Dian Widyaningtyas

Tender, Love, and Care

Masih ditepi malam yang sepi, September 22th, 2013

Gambar diambil dari www.flickriver.com

Jadilah Aku Kehendakmu

Sonata

Tercerabut dari peraduan di tepi malam

Menikmati lagu sunyi  semesta yang masih pulas

Ditingkahi kecipak air kran bocor yang enggan jatuh

Menciptakan sonata cinta yang hampir usang

Ada kau disana diantara sonata cinta itu

Seolah memangilku untuk mencumbui malam senyap

Tak kuasa kutolak pintamu yang seumpama titah raja

Kau jadikan aku air

Maka jadilah aku air penawar dahaga jiwamu

Kau jadikan aku angin

Maka jadilah aku angin pengusir lelah jiwamu

Kau jadikan aku pagi

Maka jadilah aku pagi yang memeluk jiwamu

Kau jadikan aku malam

Maka jadilah aku malam yang membelai  jiwamu

Kau jadikan aku api

Maka jadilah aku api yang membakar gelora jiwamu

Karena dirimu  seumpama raja di hatiku

 

 

Dian Widyaningtyas

Tender Loving Care

Di tepi malam yang hampir usang, September 19th, 2013

Gambar diambil dari sini

Weekly Writing Challenge: Dialogue

“We blog for a million different reasons, but in the end, we’re all storytellers.” I agrree….

Cinta yang Layu

Jangan salahkan dia jika berlalu               Layu

Salahkan hatimu yang terlalu angkuh

Kau kira dia akan tahu

Apa yang tersembunyi di dalam hatimu

Akhirnya kau hanya bisa tergugu

Merasai cinta yang harus layu

 

 

Dian Widyaningtyas

Tender, Love, and Care

In the still of the night on very early September 16th, 2013

Pict is taken from this