Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘tyastlc’

Red

 

Mestinya kau tahu

Manakala jarak dan waktu terbentang diantara kita

saat itulah kurasakan rindu

 

Dan mestinya kau tahu

Manakala sekat-sekat diantara kita membuat dirimu terasa jauh dari jangkauan angan

Saat itulah kurasakan rindu

 

***

Tyastlc

Early September 5th, 2016

Still can’t sleep…..

Advertisements

Read Full Post »

Antara Ada dan Tiada 2

Antara Ada dan Tiada

Antara Ada dan Tiada

Tiba-tiba saja takut kehilangan itu terasa

Pada sesosok bayangan yang mengisi sebilik hati yang hampir beku

Dan yang mewarnai ruang kecil di jiwa yang hampir bisu

Dan aku masih saja bermain-main dengan bimbangku

Antara ada dan tiada

Rasaku untuknya

***

Dian Widyaningtyas

For Tyastlc.com

Tuesday 12.43 AM, July 21st, 2015

Read Full Post »

Aku bergegas memasuki bangunan megah bergaya Victoria yang terletak di sebuah kawasan hunian mewah. Letaknya yang berada di hook membuatku tak kesulitan untuk menemukan rumah seorang fotografer kondang yang sering kulihat karya-karyanya tapi belum pernah kujumpai ataupun kulihat orangnya. Karena penasaran maka aku mengajukan diri untuk menjemput sang fotografer ketika sepupuku yang siang ini hendak melangsungkan resepsi pernikahan memintaku untuk menyuruh sopirnya menjemput sang fotografer di rumahnya.

“Kamu yakin?” Tanya sepupuku ragu.

“Dia akan merasa lebih dihargai jika yang menjemputnya adalah keluarga mempelai” Begitu alasan yang kuajukan padanya. Saudaraku mengangguk sambil tersenyum. Dia tak punya waktu untuk berdebat denganku.

Pandanganku tertuju pada pilar-pilar tinggi berwarna putih yang bertumpu pada beberapa anak tangga ketika aku melewati teras rumah besar itu. Kuperkirakan kedua tanganku ini tak akan cukup memeluk pilar-pilar tersebut. Tentu saja aku tak perlu membuktikannya kalau tidak mau dianggap konyol oleh siapapun yang mungkin melihat kelakuanku. Aku senyum-senyum sendiri dalam hati membayangkan aku memeluk pilar-pilar itu dan dipergoki oleh seseorang. Seorang lelaki berpakaian seragam security menyambut kedatangaku dari balik pintu yang tak kalah menjulangnya daripada pilar-pilar tadi. Dia mempersilahkan aku masuk setelah kuutarakan maksud kedatanganku.

Bangunan yang kumasuki ternyata sebuah galeri tempat sang fotografer memajang karya-karyanya. Sebagian karyanya sudah pernah aku lihat di sebuah jejaring sosial. Foto-fotonya bertema makanan. Dia memang mengkhususkan diri dalam bidang food photography. Followernya berjumlah ribuan. Baik dari kalangan sesama fotografer maupun penikmat foto-foto artistik macam diriku. Kemampuannya telah mendapat pengakuan oleh berbagai komunitas fotografer. Aku heran bagaimana dia bisa dengan sangat pas mengambil sudut dari tiap obyek yang akan difotonya.  Pencahayaannya juga pas banget, menjadikan semua foto-foto hasil karyanya begitu artistik. Dia juga sangat memperhatikan komposisi warna tiap obyek foto yang berada dalam satu frame sehingga menghasilkan harmonisasi di tiap-tiap karyanya. Maklum saja, fotografi adalah dunia yang belum bisa kutaklukkan sampai saat ini. Makanya aku selalu terkagum-kagum melihat hasil jepretan orang-orang yang menurutku sangat jenius. Salah satunya adalah orang yang hendak kutemui ini.

Tiba-tiba mataku tertuju pada satu spot yang mungkin sedari awal tadi terlewat dari perhatianku. Ada inisial AK yang dibubuhkan sebagai watermark disalah satu karyanya. Tulisannya tipis sekali hingga hampir tak terlihat kalau saja mataku tidak jeli meneliti detil foto es cream berlatar belakang beberapa buah tersebut lebih dekat. Aku tahu nama sang fotografer adalah Kamal. Begitu yang kuketahui lewat akun Instagramnya. Tapi aku tak tahu nama lengkapnya. Aku yakin AK adalah inisial nama lengkapnya. Sepertinya aku begitu familiar dengan inisial itu tapi entah dimana. Sepertinya tidak terlalu lama, dan sangat sering aku memperhatikan inisial tersebut. Otakku tak bisa kupaksa untuk mengingatnya. Kemudian kususuri kembali dari awal deretan foto-foto yang berjejer rapi di dinding. Ternyata semua foto-foto itu dibubuhi watermark dengan inisial yang sama. Ah…kenapa otakku tiba-tiba buntu begini. Aku merutuki diriku sendiri dalam hati. Aku sering melihatnya sebelum ini. Tidak di akun instagramnya. Dia tak pernah memasang watermark diakunnya. Tapi dimana?

“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” Kehadiran satpam yang tiba-tiba sudah berada disampingku sangat mengejutkan aku. Mungkin tanpa kusadari sudah sedari tadi dia berdiri disampingku.

“Eh iya pak. Saya sedang memperhatikan inisial AK di tiap foto-foto ini. Saya pernah lihat sebagian foto-foto ini di internet tapi nggak ada inisialnya” Jelasku panjang lebar untuk menutupi kegugupanku.

“AK adalah inisial nama Ibu Anita Kamal. Beliau selalu membubuhkan inisial namanya di tiap karyanya”

“O….” hanya itu yang bisa terucap dari mulutku. Karena aku sedang menyesali kedudulan diriku. Aku tak pernah menyangka sebelumnya bahwa Kamal yang selama ini foto-fotonya kukagumi adalah seorang perempuan.

“Baik, Pak. Rasanya saya sudah terlalu lama di ruangan ini. Lebih baik saya menemui Ibu Anita Kamal sekarang” Aku buru-buru meninggalkan satpam dan berjalan menuju pintu samping yang tadi ditunjukkannya.

“Ruang kerjanya berada di ujung selasar itu, Mbak” itu kata-kata satpam yang kuingat saat pertama kali aku memasuki ruang galeri. Di kiri kanan selasar terdapat tanaman mawar berbagai warna yang terawat rapi. Di sebelah kanan terdapat kolam ikan Koi yang berukuran lumayan besar. Kalau saja pikiranku tidak terusik dengan inisial AK, ingin rasanya aku berlama-lama menikmati keindahan ikan-ikan tersebut. Rasanya selasar ini tak banyak dilalui orang. Satpam tadi juga memberitahuku bahwa akses ke kantor sang fotografer sebenarnya bukan dari ruang Galeri, melainkan dari sisi sebelahnya.

“Jam berapa acaranya” lamat-lamat kudengar suara berat seorang lelaki dari dalam bangunan yang terpisah sekitar sepuluh meter dari ruang galeri. Aku memperlambat langka kakiku.

“Jam 13” Suara seorang wanita menjawabnya pendek.

“Berhati-hatilah. Kupikir kamera itu terlalu sering meminta korban akhir-akhir ini. Bagaimana kalau ada yang curiga?” Suara lelaki itu lagi.

“Kamera ini akan terus meminta darah agar bisa menghasilkan foto-foto yang dikagumi banyak orang” Suara wanita itu. “Jangan khawatir, tidak ada yang akan curiga. Korbannya acak dan tidak ada kaitan apapun diantara korban-korban yang menjadi tumbal kamera ini” lanjut wanita itu.

Aku terkesiap sesaat. Pikiranku tiba-tiba melayang ke tumpukan beberapa foto yang ada di meja kerjaku. Itu adalah foto-foto korban pembunuhan yang belum bisa kupecahkan kasusnya. Foto-foto yang ada di mejaku adalah foto terakhir mereka beberapa hari sebelum meninggal secara misterius. Mereka tidak saling berkaitan. Tapi ada kesamaan di foto-foto tersebut. Ya !!! Aku ingat sekarang. Aku melihat inisial AK pada semua foto-foto korban. Jadi…… ah pikiranku dipenuhi modus-modus pembunuhan yang mungkin ada kaitannya antara para korban, inisial AK, dan wanita fotografer yang hendak kutemui ini. Tanpa kusadari langkah kakiku yang sedari tadi kuperlambat akhirnya mengantarkan aku ke depan pintu ruang kerja Anita Kamal. Aku gugup dan berusaha menarik pikiranku ke dunia nyata secepatnya. Perempuan berumur sekitar empat puluh lima tahun itu tak kalah kagetnya mendapati diriku tiba-tiba berada di depan ruang kerjanya dari arah yang mungkin tak pernah dia kira sebelumnya. Aku tiba-tiba teringat dengan sepupuku. Bayangan dia dan istrinya yang baru saja kemarin melangsungkan pernikahan berkelebatan dipikiranku. Aku harus menyelamatkan mereka. Tapi bagaimana caraku untuk mencegah wanita ini agar tidak bertemu mereka? Rasanya ingin sekali aku segera lari dari tempat ini dan memberitahukan semuanya kepada sepupuku. Tapi kedua kakiku seolah tertancap dengan kuat ke dalam lantai marmer yang kupijak. Lalu tiba-tiba semua yang ada disekitarku seolah berputar-putar semakin kencang….

Inst10

Inst10

Dan tiba-tiba aku terbangun dari tidurku. Mimpiku melayang begitu saja meninggalkan aku dalam keadaan termangu-mangu di pinggir ranjang. “What was that?” Tanyaku dalam hati.  Aku ingat sebelum tidur aku sedang membuka sebuah aplikasi yang merupakan sebuah client application dari Instagram. Nama aplikasinya Inst10. Aku member dari sebuah komunitas yang bernama Beta Zone. Tugasku adalah memberi feedback kepada pihak-pihak yang hendak meluncurkan aplikasi-aplikasinya ke appsworld. Jadi mereka memberiku kesempatan pertama untuk mendownload versi beta, menjajalnya pada gadgetku, dan menginformasikan kepada mereka jika ada bug ataupun masukan lain berkaitan dengan aplikasi beta tersebut. Jika aplikasinya sudah fix, baru deh dilaunching di appsworld secara terbuka.

Nah karena seharian aplikasi Inst10 tersebut kugeber di gadgetku Blackberry versi 10, agar aku bisa tahu errornya dimana, maka tak heran sampai kebawa dalam mimpi tuh foto-foto yang kulihat di Instagram.

***

Tyastlc

Nighty nighty night, Beginning March, 2015

Read Full Post »

2014 in Review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 1,600 times in 2014. If it were a cable car, it would take about 27 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

I hope it will be better in 2015.

Read Full Post »

Sejatinya sudah beberapa ulasan tentang gadget yang saya tulis tetapi selalu saja urung diupload ke blog karena kurang percaya diri. Akhirnya malam ini Ratu Gadget (julukan yang diberikan teman-teman kepada saya) memberanikan diri untuk mengupload sebuah tulisan yang temanya sangat berbeda dari biasanya, yaitu seputar memaksimalkan fungsi gadget. Tentu saja dengan gaya penulisan yang juga berbeda dari biasanya. Biasanya saya selalu membahasakan diri dengan sebutan “aku” disetiap tulisan, tapi untuk Kategori Gadget Freaks sepertinya sebutan “saya” lebih enak dilafalkan.

(more…)

Read Full Post »

live music

Lir ilir..lir ilir

tanduri wes sumilir

tak ijo royo-royo tak senggu temanten anyar…

(more…)

Read Full Post »

Masih Tentang Dirimu

cry

Malam ini senandung rindumu menjajah pikiranku

Selalu ada getir tiap mendengarnya

Kau tau itu

Leleh air mata tak ingin kususut

Biarlah!

 

Sejuta rasa merangsek dalam dada

Berontak

Mengaduk-aduk

Berloncatan kesana kemari

Hendak lari

Diam! kataku

Lalu dia terdiam

Pilu

 

Buang saja kenapamu

Biarkan aku puas menangis

Ada wajahmu ditiap linangannya

Ada senyummu ditiap tetesannya

Masihkah berarti bagimu?

 

 

Dian Widyaningtyas

Tender Loving Care

From sleepless night ’till touch the dawn, October 3th, 2013

Picture from this site

 

Read Full Post »

Sudut yang Terabaikan

Hari Jumat sepulang dari kantor seperti biasa aku langsung menuju ke kamarku. Menghadap meja kecil bercermin sambil melepas satu persatu peniti-peniti mungil yang sedari pagi menancap di jilbab coklat tuaku. Beberapa detik berlalu baru kusadari ada yang lain di meja riasku. Sepertinya ada yang menjelajahi meja riasku saat aku tidak berada di rumah. Susunan benda-benda diatasnya sedikit berubah. Dan…hei…kemana larinya debu tebal yang biasanya setia menyelimuti meja bercermin itu? Lalu kubuka lemari kecil yang nempel disampingnya. Sama ! Ada yg pernah menyentuhnya dan menyapu bersih debu tebal di dalamnya. Aku baru ingat…itu pasti kerjaan si mbak yang baru beberapa hari lalu bekerja di rumahku. Aku memang tidak melarangnya masuk ke kamar pribadiku.

Sejak kepergian belahan jiwa, aku memang enggan sekali menyentuh benda-benda yang berada di atas meja riasku. Aku hanya memanfaatkan cerminnya untuk memastikan jilbab yang kupasang sudah rapi menutup kepala dan dada. Aku tidak peduli saat debu mulai menyelimuti meja kecil dan benda-benda di atasnya. Pun aku tidak peduli ketika kian hari cerminnya kian buram tertutup debu. Aku tidak punya keinginan sedikitpun untuk mengusir debu nakal itu. Sungguh aku tidak peduli. Padahal dulu saat belahan jiwa masih ada, aku paling senang duduk berlama-lama di depannya sambil oles ini itu ke seluruh permukaan kulitku. Demi belahan jiwa tercinta. Dan belahan jiwa sangat senang dengan rutinitasku tersebut.

Meja Rias

Akhirnya sekalian saja aku rapikan meja rias itu sesuai keinginanku. Setelah semuanya rapi jali, aku tertegun dan termangu melihat penampilan meja riasku yang telah sekian bulan terabaikan tak kusentuh sama sekali, kini kembali seperti saat belahan jiwa masih ada. Jadi kangen banget dengan kehadirannya. Kusemprot sedikit parfum amber elixir kesukaan belahan jiwa ke pergelangan tanganku. Kuoles tipis-tipis body butter ke tanganku. Memulas tipis lipstick coklat kemerahan pada bibirku. Memberi sedikit rona peach pada tulang pipiku. Lalu demi apa coba? Entahlah….. aku hanya ingin merasakan belahan jiwa ada di sini bersamaku, seperti dulu, sambil memandangku lekat-lekat seolah ingin mengingat setiap detil wajahku. Aku ingin merasakannya lagi walau hanya beberapa detik sebelum aku menyadari bahwa semua itu adalah semu.

***

Dian Widyaningtyas

Tender, Love, and Care

Di ujung rindu yang tak pernah terobati…

Mengetuk pintu malam, September 28th, 2013

Read Full Post »

Mencarimu

stock-photo-moon-and-stars-outside-old-window-1526748

Mencarimu diantara sepinya malam yang merambati jendela kamarku yang tiada henti bernyanyi lirih

Nyanyiannya pilu menelusup ke dalam dinding-dinding hatiku

Merangsek ke dalam bilik-biliknya

Acuhkan diriku yang hanya bisa menunggu

Tak kutemukan jawabnya di sana

Bahkan jendela itu hanya menggeleng perlahan

Sudahlah !

Tak ingin kubertanya lagi padanya

 

Mencarimu diantara gelap malam yang coba dirayu rembulan kesepian dengan sinarnya yang lembut yang dia pinjam dari kekasihnya yang lebih dulu pulang ke peraduan

Mereka terlalu sibuk bercumbu

Saling peluk dan berpagut mesra

Acuhkan diriku yang hanya bisa termangu

Tak kutemukan jawabnya di sana

Bahkan rembulan itu tidak melihatku sama sekali

Sudahlah !

Tak ingin kubertanya lagi padanya

 

Mencarimu diantara angin malam yang meninabobokkan dedaunan yang sedari siang tadi bermain-main dengan matahari

Masih saja dedaunan itu enggan terlelap

Mereka  ingin terus menari

Meliuk-liuk binal diterpa cahaya gemintang centil di langit temaram

Acuhkan diriku yang hanya bisa terguguh

Tak kutemukan jawabnya di sana

Bahkan dedaunan itu sesekali mengejekku dengan berdesah manja pada angin malam

Sudahlah !

Tak ingin kubertanya lagi padanya

 

Dan aku masih mencarimu

Entah kemana lagi

Mungkin dalam relung hatiku

Yang banyak menyimpan senyummu

Juga candamu

Entahlah……..

 

 

Dian Widyaningtyas

Tender, Love, and Care

Mencarimu hingga terdampar di awal hari, September 23th, 2013

Read Full Post »

bangku putih

http://dailypost.wordpress.com/2013/09/16/writing-challenge-dialogue/

“Apakah kau benar-benar akan pergi?” Pertanyaan yang sama yang kau lontarkan entah yang keberapa kalinya.
“Alex…” Aku menghela nafas menahan kejengkelanku “Tentu saja aku akan pergi. Sudah sejak lama aku menantikan kesempatan ini”

Senja di taman yang tiba-tiba sepi oleh kebisuanmu. Sedangkan hatiku bergemuruh karena sikapmu itu. Bangku putih di pojok taman menjadi saksi bisu pergolakan hati kita. Warna warni bunga di sana terlihat pucat di mataku. Bahkan kecipak suara air mancur di tengah taman menjadi sangat berisik di telingaku. Sikapmu sangat menyiksaku.

“Ini tidak akan lama, Alex” aku ragu dengan ucapanku sendiri “Aku akan menyelesaikan studiku dalam tiga tahun” aku mencoba meyakinkanmu……dan diriku.

Bayangan lima tahun silam itu berkelebat  dalam benakku. Silih berganti menampar dan mencabik-cabik keangkuhanku. Ditahun ketiga kukatakan padamu bahwa aku akan menambah studiku selama dua tahun lagi untuk memperdalamnya. Seraut wajah kecewamu masih segar dalam ingatanku. Seperti biasa kau hanya diam. Beberapa minggu kemudian aku menerima teleponmu yang mengatakan kau ingin mengakhiri semuanya. Waktu itu aku tidak berusaha mencegahmu. Aku bahkan merasa terbebas dari suatu beban, entah apa. Hari-hari berikutnya aku semakin sibuk mengejar ambisiku.

Menjelang tahun kelima, satu persatu ambisiku mulai berada dalam genggaman. Tapi aku tak pernah merasa puas dengan semua itu. Selalu saja aku merasa ada yang kurang. Cukup lama aku mencari jawaban apa yang kurang dalam hidupku. Ya…ternyata kau, Alex! Ternyata hidupku tak lengkap tanpamu. Kau tahu, Alex….andai saja aku boleh memiliki satu permintaan, ingin rasanya aku kembali ke masa lima tahun silam. Ingin kuperbaiki semua kesalahanku. Aku ingin tetap bersamamu. Tapi penyesalan selalu saja datangnya terlambat.

Di taman yang sama, masih sesenja lima tahun silam. Warna warni bunga masih terlihat sepucat dulu dimataku. Bahkan kecipak suara air mancur di tengah taman masih terdengar seberisik dulu di telingaku. Aku duduk di bangku putih yang mulai memudar dilumat sang waktu. Tapi entah mengapa ingatan akan dirimu tak pernah pudar dalam benakku.

Dian Widyaningtyas

Tender, Love, and Care

Masih ditepi malam yang sepi, September 22th, 2013

Gambar diambil dari www.flickriver.com

Read Full Post »

Older Posts »

Imexplore's Blog

exploring some things to explore

LifeBlog

Biblical, Authors' and Writers' Views on Life Issues!

Wild Rose Coffee

When Pleasure and Pain Collide...

Ruang Aksara

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat & dari sejarah.” -Pramoedya Ananta Toer

Gotta Find a Home

Conversations with Street People

Dream, Play, Write!

Today, make a commitment to your writing.

Eric Carlson (awolsurfer)

Building a Business While Still Having a Life...

playwithlifeorg

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

keithgarrettpoetry

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

meganelizabethmorales

MANNERS MAKETH MAN, LOST BOYS FAN & PERPETAUL CREATIVITY.

MENU WISATA DIENG

Portal Wisata Dieng Plateau, Jawa Tengah, Indonesia

Badfish & Chips Cafe

Travel photos, memoirs & letters home...from anywhere in the world

IrPani'S BloG

“Traveling – it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.” – Ibn Battuta

Simply Made Kitchen and Crafts

Wholesome family living, simple recipes and crafts

Rahmatullah Barkat's

My life, my hobbies, my story

Fluffy Sensations

Cake me up before you take my bread away

%d bloggers like this: