Yang Tak Pernah Pudar

bangku putih

http://dailypost.wordpress.com/2013/09/16/writing-challenge-dialogue/

“Apakah kau benar-benar akan pergi?” Pertanyaan yang sama yang kau lontarkan entah yang keberapa kalinya.
“Alex…” Aku menghela nafas menahan kejengkelanku “Tentu saja aku akan pergi. Sudah sejak lama aku menantikan kesempatan ini”

Senja di taman yang tiba-tiba sepi oleh kebisuanmu. Sedangkan hatiku bergemuruh karena sikapmu itu. Bangku putih di pojok taman menjadi saksi bisu pergolakan hati kita. Warna warni bunga di sana terlihat pucat di mataku. Bahkan kecipak suara air mancur di tengah taman menjadi sangat berisik di telingaku. Sikapmu sangat menyiksaku.

“Ini tidak akan lama, Alex” aku ragu dengan ucapanku sendiri “Aku akan menyelesaikan studiku dalam tiga tahun” aku mencoba meyakinkanmu……dan diriku.

Bayangan lima tahun silam itu berkelebat  dalam benakku. Silih berganti menampar dan mencabik-cabik keangkuhanku. Ditahun ketiga kukatakan padamu bahwa aku akan menambah studiku selama dua tahun lagi untuk memperdalamnya. Seraut wajah kecewamu masih segar dalam ingatanku. Seperti biasa kau hanya diam. Beberapa minggu kemudian aku menerima teleponmu yang mengatakan kau ingin mengakhiri semuanya. Waktu itu aku tidak berusaha mencegahmu. Aku bahkan merasa terbebas dari suatu beban, entah apa. Hari-hari berikutnya aku semakin sibuk mengejar ambisiku.

Menjelang tahun kelima, satu persatu ambisiku mulai berada dalam genggaman. Tapi aku tak pernah merasa puas dengan semua itu. Selalu saja aku merasa ada yang kurang. Cukup lama aku mencari jawaban apa yang kurang dalam hidupku. Ya…ternyata kau, Alex! Ternyata hidupku tak lengkap tanpamu. Kau tahu, Alex….andai saja aku boleh memiliki satu permintaan, ingin rasanya aku kembali ke masa lima tahun silam. Ingin kuperbaiki semua kesalahanku. Aku ingin tetap bersamamu. Tapi penyesalan selalu saja datangnya terlambat.

Di taman yang sama, masih sesenja lima tahun silam. Warna warni bunga masih terlihat sepucat dulu dimataku. Bahkan kecipak suara air mancur di tengah taman masih terdengar seberisik dulu di telingaku. Aku duduk di bangku putih yang mulai memudar dilumat sang waktu. Tapi entah mengapa ingatan akan dirimu tak pernah pudar dalam benakku.

Dian Widyaningtyas

Tender, Love, and Care

Masih ditepi malam yang sepi, September 22th, 2013

Gambar diambil dari www.flickriver.com

Advertisements

Jadilah Aku Kehendakmu

Sonata

Tercerabut dari peraduan di tepi malam

Menikmati lagu sunyi  semesta yang masih pulas

Ditingkahi kecipak air kran bocor yang enggan jatuh

Menciptakan sonata cinta yang hampir usang

Ada kau disana diantara sonata cinta itu

Seolah memangilku untuk mencumbui malam senyap

Tak kuasa kutolak pintamu yang seumpama titah raja

Kau jadikan aku air

Maka jadilah aku air penawar dahaga jiwamu

Kau jadikan aku angin

Maka jadilah aku angin pengusir lelah jiwamu

Kau jadikan aku pagi

Maka jadilah aku pagi yang memeluk jiwamu

Kau jadikan aku malam

Maka jadilah aku malam yang membelai  jiwamu

Kau jadikan aku api

Maka jadilah aku api yang membakar gelora jiwamu

Karena dirimu  seumpama raja di hatiku

 

 

Dian Widyaningtyas

Tender Loving Care

Di tepi malam yang hampir usang, September 19th, 2013

Gambar diambil dari sini